Standard Post with Image
BPR

33 BPR BKK Se Jawa Tengah Siap Lakukan Konsolidasi Besar Besaran

BPRNews.id - Sebanyak 33 Bank Perekonomian Rakyat Badan Kredit Kecamatan (BPR BKK) di Jawa Tengah bersiap melaksanakan konsolidasi besar-besaran. Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut dari Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 7 Tahun 2024, yang mengatur penggabungan BPR dan BPRS menjadi satu entitas guna menciptakan tata kelola yang lebih efisien dan terintegrasi.

"Karena BPR BKK dimiliki tidak hanya oleh Pemerintah Provinsi, tetapi juga oleh pemerintah kabupaten dan kota, penyamaan persepsi di antara semua pemangku kepentingan sangat diperlukan," ujar Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, saat membuka Sosialisasi Implementasi Peraturan OJK Nomor 7 Tahun 2024 di Hotel Swiss Belinn Saripetojo Surakarta, Selasa (10/9/2024).

Sumarno menambahkan bahwa peraturan ini bertujuan untuk mendorong BPR dan BPRS menjadi lembaga keuangan yang berintegritas, adaptif, dan kompetitif. BPR BKK diharapkan tetap berperan aktif dalam memberikan layanan keuangan bagi masyarakat, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Mudah-mudahan ini menjadi titik awal untuk memperbaiki dan memperkuat BPR BKK di Jawa Tengah," lanjutnya.

Kepala Biro Perekonomian Setda Jateng, July Emmylia, menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan sosialisasi menyeluruh terkait implementasi aturan ini kepada direksi BPR BKK, DPRD Jateng, dan berbagai pihak terkait. Selain itu, survei juga dilakukan terhadap pegawai dan nasabah untuk mempersiapkan perubahan dari BPR konvensional menjadi BPR Syariah.

"Sosialisasi kepada DPRD mendapatkan dukungan yang sangat positif," jelasnya.

 

Penulis         : Vania
Editor           : Widya

 

Standard Post with Image
bank umum

Penyaluran kredit perbankan Lampung triwulan II tumbuh sebesar Rp3,77 triliun

BPRNews.id  - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung melaporkan bahwa penyaluran kredit perbankan di daerah ini mengalami peningkatan sebesar Rp3,77 triliun pada triwulan II 2024, yang mencerminkan pertumbuhan sebesar 4,84 persen.

Kepala OJK Provinsi Lampung, Otto Fitriandy, menyatakan, "Perkembangan kredit di Provinsi Lampung masih berjalan positif, di mana penyaluran kredit perbankan pada triwulan II 2024 ini tumbuh sebesar Rp3,77 triliun atau 4,84 persen." 

Dia menjelaskan bahwa total penyaluran kredit perbankan di Lampung pada triwulan II 2024 mencapai Rp81,63 triliun, dibandingkan dengan Rp77,86 triliun pada triwulan II 2023. Peningkatan terbesar dalam penyaluran kredit berasal dari Bank Umum Konvensional (BUK), yang naik sebesar Rp3,01 triliun atau 4,99 persen.

Sementara itu, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) mencatat pertumbuhan kredit sebesar Rp0,46 triliun atau 3,79 persen. Ia juga menyebutkan, "Untuk pertumbuhan kredit dari Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) sebesar Rp0,24 triliun, sedangkan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) sebesar Rp0,05 triliun."

Berdasarkan sektor ekonomi, Otto Fitriandy menjelaskan, "Penyaluran kredit perbankan di Lampung terkonsentrasi pada tiga sektor terbesar yaitu sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 22,46 persen atau berjumlah Rp18,33 triliun."

Selain itu, sektor konsumtif, khususnya untuk kepemilikan peralatan rumah tangga atau multiguna, mencapai Rp15,86 triliun atau 19,42 persen. "Sektor pertanian, perburuan, serta kehutanan memberikan kontribusi 13,58 persen atau sebesar Rp11,09 triliun," tambahnya.

Otto Fitriandy menekankan bahwa sektor-sektor ini tetap menjadi unggulan dalam penyaluran kredit di Provinsi Lampung dan regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). "Bila dilihat per sektor, untuk penyaluran kredit sektor pertanian, perdagangan besar, dan konsumtif masih menjadi sektor unggulan di Provinsi Lampung dan regional Sumbagsel," tutupnya.

 

Penulis :Pasya
Editor :Widya

 

Standard Post with Image
bank umum

Mengguncang Industri BPR, Bank Digital Berinovasi Lewat Ekosistem

BPRNews.id  - Industri perbankan mulai diramaikan oleh kehadiran bank digital, termasuk dalam ranah Bank Perekonomian  Rakyat (BPR). Salah satu contoh adalah Koinworks Bank, yang lahir dari ekosistem fintech P2P Lending, Koinworks.

Diluncurkan pada Oktober tahun lalu, Koinworks Bank berhasil menunjukkan kinerja positif dengan membalikkan kondisi rugi menjadi laba. Pada akhir tahun 2023, bank ini masih mengalami kerugian sebesar Rp 3 miliar, namun hingga Agustus 2024, Koinworks Bank berhasil mencetak laba sebesar Rp 4,8 miliar.

Jonathan Bryan, Presiden Direktur Koin P2P, menjelaskan bahwa alasan Koinworks mengakuisisi BPR adalah untuk memperluas produk yang mereka tawarkan kepada basis nasabah yang telah besar. Ia mengatakan, “Sayang jika basis nasabah yang kami miliki hanya digunakan untuk produk P2P lending saja.” Oleh karena itu, Koinworks memutuskan untuk mengakuisisi BPR, yang menawarkan produk pinjaman dengan tenor yang lebih panjang dan menggunakan agunan.

Sementara itu, Joko Purwanto, Direktur Utama Koinworks Bank, menyebutkan bahwa saat ini belum ada kerja sama antara Koinworks Bank dan KoinP2P, seperti kredit channeling. Joko menyebut, "Koinworks Bank belum mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberikan kredit channeling." Namun, ia tidak menutup kemungkinan kerja sama tersebut akan terjadi di masa depan.

Selain Koinworks Bank, BPR Syariah juga turut meramaikan industri perbankan digital. PT BPRS Hijra Alami, yang sebelumnya mengakuisisi BPRS Cempaka Al Amin pada 2021, resmi bertransformasi menjadi bank digital pada tahun 2022. Meskipun begitu, laporan keuangan Hijra Bank per Maret 2024 menunjukkan kerugian sebesar Rp 1,89 miliar, berbeda dengan tahun sebelumnya yang masih mencatatkan laba.

Cahyo Kartiko, Ketua Umum Kompartemen BPR Syariah Asbisindo, menilai bahwa hanya BPR yang memiliki ekosistem kuat, seperti fintech, yang mampu melakukan transformasi menjadi bank digital. “Potensinya ada, terutama bagi BPR yang belum memenuhi permodalan,” ujarnya.

Namun, ia juga menambahkan bahwa transformasi menjadi bank digital sepenuhnya bisa menghilangkan kekhasan BPR yang dikenal dekat dengan masyarakat.

Di sisi lain, Teddy Alamsyah, Ketua Umum DPP Perbarindo, berpandangan bahwa kehadiran bank digital di industri BPR dapat mendorong kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, ia menilai bahwa BPR tidak akan bisa bersaing secara penuh digital seperti bank umum, mengingat keterbatasan modal dan sumber daya yang dimiliki oleh BPR.

 

Penulis : Pasya
Editor : Widya

 

Standard Post with Image
BPR

Bank Rasuna Resmi Berubah Nama Jadi Bank Perekonomian Rakyat

Bprnews.id Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Raga Surya Nuansa, yang sebelumnya dikenal sebagai Bank Rasuna, secara resmi mengganti namanya menjadi Bank Perekonomian Rakyat.

Perubahan nama ini disambut dengan serangkaian kegiatan perayaan, termasuk tasyakuran, jalan sehat, dan pengundian hadiah langsung untuk dua produk tabungan unggulan, yakni Tabungan Kesejahteraan Umat (Takesmat) dan Tabungan Kesejahteraan Mahasiswa dan Pelajar (Takeswajar) dalam rangka ulang tahun ke-65, pada Sabtu, 7 September 2024.

Direktur Bank Rasuna, H. Muhammad Amir, menjelaskan bahwa perubahan nama ini merupakan bagian dari penyesuaian terhadap Undang-Undang No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan. Selain itu, perubahan ini mengikuti Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 7 Tahun 2024 yang bertujuan memperkuat kelembagaan BPR dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS).

"Bank Rasuna kini telah berusia lebih dari 32 tahun, dan kegiatan jalan sehat ini menjadi bagian dari perayaan atas perubahan nama yang penting ini," ujar Amir kepada Gema Surya pada Minggu (08/09).

 

Penulis : Vania
Editor : Widya

 

Standard Post with Image
BPR

Rahasia di Balik Perayaan Bank Perekonomian Rakyat Rasuna: Apa yang Terjadi?

Bprnews.id - PT BPR BKK Jepara berhasil mengelola dana nasabah hingga mencapai angka Rp 300 miliar. Informasi ini disampaikan dalam acara Customer Gathering yang digelar oleh PT BPR BKK Jepara di D’Anglo Resto pada Senin malam, (9/9/2024).

Penjabat (Pj) Bupati Jepara, H. Edy Supriyanta, dalam sambutannya mengungkapkan, "Berdasarkan laporan dari direktur, aset kita saat ini mencapai sekitar Rp 410 miliar, dengan dana nasabah yang kami kelola kurang lebih Rp 300 miliar."

Edy juga menekankan bahwa bank ini, yang merupakan milik pemerintah, memiliki pengawasan yang sangat ketat, sehingga keamanan dana nasabah terjamin. "Setiap Sabtu kami melakukan pengecekan, dan setiap bulannya kami melaporkan perkembangan kepada Bapak Gubernur. Jadi pengawasannya benar-benar detail dan ketat," ujarnya.

PT BPR BKK Jepara sendiri dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan saham 51%, sementara 49% sisanya dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Jepara. Pj Bupati meminta kepada jajaran direksi untuk selalu melaporkan kondisi keuangan secara transparan, agar pemerintah sebagai pemegang saham dapat membuat kebijakan yang tepat sesuai kondisi sebenarnya.

Dengan neraca keuangan yang baik, PT BPR BKK Jepara dinilai mampu menjaga keamanan dana nasabah, bahkan dalam situasi darurat atau force majeure. "Saya harap seluruh direksi dan karyawan bekerja dengan integritas tinggi, jangan tergoda dengan hal-hal yang tidak sesuai, dan selalu fokus pada tugas," tegas Edy.

Edy juga menekankan pentingnya profesionalisme, mengingat kepercayaan masyarakat terhadap PT BPR BKK Jepara sangat besar. Turut hadir dalam acara tersebut Direktur Utama PT BPR BKK Jepara, Basri, serta beberapa pejabat daerah lainnya, termasuk Asisten II Sekda Jepara, Hery Yulianto, dan Kepala Dinsospermasdes, Edy Marwoto.


Penulis : Vania
Editor : Widya

Copyrights © 2024 All Rights Reserved by BPR News