Standard Post with Image
BPR

LPS Siapkan Pembayaran Klaim Nasabah BPR Lubuk Raya Mandiri

BPRNews.id - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sedang menyiapkan proses pembayaran klaim penjaminan simpanan dan pelaksanaan likuidasi untuk PT BPR Lubuk Raya Mandiri, yang berlokasi di Jalan Bypass KM 6 RW 006, Lubuk Bagalung Nan XX, Kota Padang, Sumatera Barat. Hal ini dilakukan setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut izin BPR Lubuk Raya Mandiri pada 23 Juli 2024.

Untuk memastikan pembayaran klaim penjaminan simpanan nasabah, LPS akan melakukan rekonsiliasi dan verifikasi atas data simpanan dan informasi lainnya. Proses ini akan diselesaikan dalam waktu paling lama 90 hari kerja. Dana yang digunakan untuk pembayaran klaim ini bersumber dari dana LPS.

Nasabah dapat mengecek status simpanannya di kantor BPR Lubuk Raya Mandiri atau melalui website LPS (www.lps.go.id) setelah pengumuman pembayaran klaim dilakukan oleh LPS. Bagi debitur bank, pembayaran cicilan atau pelunasan pinjaman tetap bisa dilakukan di kantor BPR Lubuk Raya Mandiri dengan menghubungi Tim Likuidasi LPS.

Sekretaris Lembaga LPS, Annas Iswahyudi, mengimbau agar nasabah tetap tenang dan tidak terprovokasi untuk melakukan tindakan yang dapat menghambat proses pembayaran klaim dan likuidasi bank. Beliau juga mengingatkan agar tidak mempercayai pihak-pihak yang menawarkan bantuan pengurusan klaim dengan imbalan atau biaya tertentu.

Selain itu, Annas Iswahyudi menyarankan agar nasabah memindahkan simpanannya ke bank lain yang masih beroperasi setelah simpanan mereka dibayarkan oleh LPS. Nasabah juga tidak perlu ragu untuk kembali menyimpan uangnya di bank karena simpanan di semua bank yang beroperasi di Indonesia dijamin oleh LPS.

“Agar simpanan nasabah dijamin LPS, nasabah diimbau untuk memenuhi syarat 3T LPS: Tercatat dalam pembukuan bank, Tingkat bunga simpanan yang diterima nasabah tidak melebihi tingkat bunga penjaminan LPS, dan Tidak melakukan pidana yang merugikan bank,” tutup Annas Iswahyudi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pelaksanaan penjaminan simpanan dan likuidasi BPR Lubuk Raya Mandiri, nasabah dapat menghubungi Pusat Layanan Informasi (Plusinfo) LPS di 154.

 

Standard Post with Image
BPR

Penutupan PT BPR Lubuk Raya Mandiri, Gimana Nasib Nasabah?

BPRNews.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi mencabut izin usaha PT Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Lubuk Raya Mandiri, yang menjadikannya BPR ketiga belas yang tutup pada tahun ini. Pencabutan izin ini dilakukan karena bank tersebut gagal menyelesaikan masalah permodalan dan likuiditas.

Sekretaris Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Annas Iswahyudi, menyatakan bahwa proses pembayaran klaim penjaminan simpanan dan pelaksanaan likuidasi BPR akan segera dilakukan. Proses pembayaran ini akan dimulai setelah izin usaha BPR Lubuk Raya Mandiri resmi dicabut oleh OJK sejak 23 Juli 2024.

LPS akan memastikan bahwa simpanan nasabah dapat dibayar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk itu, LPS akan melakukan rekonsiliasi dan verifikasi atas data simpanan dan informasi lainnya untuk menetapkan simpanan yang akan dibayar. Proses ini diperkirakan akan selesai dalam 90 hari kerja. Dana yang digunakan untuk pembayaran klaim penjaminan simpanan nasabah bersumber dari dana LPS.

Nasabah dapat mengecek status simpanannya di kantor BPR Lubuk Raya Mandiri atau melalui website LPS setelah pengumuman pembayaran klaim penjaminan simpanan nasabah diumumkan. Bagi debitur bank, mereka tetap dapat melakukan pembayaran cicilan atau pelunasan pinjaman di kantor BPR Lubuk Raya Mandiri dengan menghubungi Tim Likuidasi LPS.

Imbauan untuk Nasabah

Nasabah BPR Lubuk Raya Mandiri diminta untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang dapat menghambat proses pembayaran klaim penjaminan dan likuidasi bank. Mereka juga diimbau untuk tidak mempercayai pihak-pihak yang menawarkan bantuan pengurusan pembayaran klaim penjaminan simpanan dengan imbalan tertentu.

LPS memastikan bahwa masih banyak BPR/BPRS atau bank umum lainnya yang beroperasi, sehingga nasabah dapat mengalihkan simpanannya ke bank lain yang terdekat dan dapat dijangkau. Nasabah juga diingatkan bahwa simpanan di semua bank yang beroperasi di Indonesia dijamin oleh LPS.

Untuk memastikan simpanan nasabah dijamin oleh LPS, nasabah diimbau untuk memenuhi syarat 3T LPS, yaitu: Tercatat dalam pembukuan bank, Tingkat bunga simpanan yang diterima nasabah tidak melebihi tingkat bunga penjaminan LPS, dan Tidak melakukan pidana yang merugikan bank.

PT BPR Lubuk Raya Mandiri berlokasi di Jl. Bypass KM 6 RW 006, Lubuk Bagalung Nan XX, Kota Padang, Sumatera Barat. Untuk informasi lebih lanjut terkait penjaminan simpanan dan likuidasi, nasabah dapat menghubungi Pusat Layanan Informasi (Puslinfo) LPS di nomor 154.

Penutupan PT BPR Lubuk Raya Mandiri menunjukkan pentingnya pengawasan dan regulasi dalam industri perbankan untuk melindungi kepentingan nasabah dan menjaga stabilitas keuangan nasional. LPS berkomitmen untuk memastikan dana nasabah aman dan proses likuidasi berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku.

 

Standard Post with Image
BPR

OJK Cabut Izin Usaha PT BPR Lubuk Raya Mandiri

BPRNews.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi mencabut izin usaha PT Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Lubuk Raya Mandiri yang berlokasi di Kota Padang, Sumatera Barat. Keputusan ini diambil setelah bank tersebut gagal menyelesaikan masalah permodalan dan likuiditas yang berlarut-larut.

Kepala OJK Provinsi Sumatera Barat, Roni Nazra, dalam keterangan resminya di Jakarta pada hari Selasa, menjelaskan bahwa pencabutan izin usaha ini adalah bagian dari langkah pengawasan yang bertujuan untuk menjaga stabilitas dan memperkuat industri perbankan, serta melindungi kepentingan konsumen.

Langkah ini dimulai pada 30 Oktober 2023, ketika OJK menetapkan BPR Lubuk Raya Mandiri dalam status pengawasan bank dalam penyehatan. Hal ini dilakukan karena rasio Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (KPMM) berada di bawah ketentuan, dan tingkat kesehatan (TKS) bank tersebut dianggap "tidak sehat".

Meski telah diberikan waktu yang cukup oleh OJK untuk melakukan upaya penyehatan, direksi, dewan komisaris, dan pemegang saham BPR Lubuk Raya Mandiri tetap tidak berhasil mengatasi masalah permodalan dan likuiditas. Akibatnya, pada 9 Juli 2024, status pengawasan bank ditingkatkan menjadi pengawasan bank dalam resolusi.

Puncaknya, pada 16 Juli 2024, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk tidak menyelamatkan BPR Lubuk Raya Mandiri dan meminta OJK untuk mencabut izin usaha bank tersebut. Menindaklanjuti permintaan LPS, OJK resmi mencabut izin usaha BPR Lubuk Raya Mandiri.

Dengan pencabutan izin usaha ini, LPS akan segera menjalankan fungsi penjaminan dan melakukan proses likuidasi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Nasabah BPR Lubuk Raya Mandiri diminta untuk tetap tenang karena dana mereka dijamin oleh LPS sesuai ketentuan yang berlaku.

Pencabutan izin usaha ini menandakan pentingnya peran pengawasan OJK dalam memastikan kesehatan industri perbankan di Indonesia, sekaligus menegaskan komitmen OJK dalam melindungi kepentingan nasabah dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

 

Standard Post with Image
BPR

Elfin Yudista Terlibat Kasus Korupsi PD. BPR Bestari

BPRNews.id - Mantan Direktur PD. BPR Bestari, Elfin Yudista, menghadapi tuduhan serius terkait kasus dugaan korupsi senilai Rp5,9 miliar, yang melibatkan terdakwa Arif Firmansyah. Selama persidangan di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Elfin Yudista terlihat sering memberikan pernyataan yang tidak konsisten dan berkelit saat dihadapkan dengan keterangan saksi.

Majelis Hakim yang diketuai oleh Ricky Ferdinand, bersama Fausi dan Saipul, mengkritik Yudista karena menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan fakta-fakta yang telah disampaikan oleh saksi-saksi selama sidang. Hakim Ricky Ferdinand mengingatkan bahwa memberikan keterangan palsu di pengadilan dapat berakibat pada tuntutan pidana, menegaskan pentingnya kejujuran dalam proses hukum.

"Saat ini, semua kesaksian telah kami catat dengan teliti. Jika ada yang memberikan keterangan palsu, kami akan mempertimbangkan langkah hukum yang sesuai," ujar Hakim Ferdinand.

Dalam persidangan, sejumlah saksi, termasuk Surya dari PE Audit Internal, Dewi dari PE Kepatuhan, Melika dari Pembukuan, Nila Widya dari PE ESDM, dan Feri dari Marketing, memberikan kesaksian bahwa Elfin Yudista terlibat aktif dalam mendukung dan menyetujui tindakan yang dilakukan oleh Arif Firmansyah.

Terungkap bahwa Yudista memberi persetujuan untuk menggunakan sisa uang sebesar Rp500 juta dari rekening terdakwa untuk aktivitas judi online, dengan harapan dapat memulihkan kerugian yang dialami PD. BPR Bestari. Namun, ketika ditanya oleh hakim, Yudista membantah terlibat dan mengklaim bahwa sisa uang di rekening hanya Rp185 juta.

Bukti pesan WhatsApp dari staf pembukuan, Melika, menunjukkan bahwa Yudista memberikan otorisasi kepada Aji untuk menaikkan batas pencairan dana dari Rp500 juta menjadi Rp1 miliar. Menanggapi bukti tersebut, Yudista akhirnya mengakui bahwa dia meminta pencairan dana dari bank umum dan menandatangani dokumen terkait.

"Ya, saya memang meminta pencairan kas giro tersebut dan menyetujui penggunaannya, tetapi setelah uang itu sampai di kantor, Melika meminta otorisasi tambahan," ungkap Yudista.

Meski demikian, Yudista kembali mengelak mengenai jumlah penarikan dana yang sebenarnya dan mengaku tidak ingat angka pastinya. Dia juga mengakui bahwa dia memberikan semua wewenang terkait peningkatan dan pencairan dana kepada Arif Firmansyah melalui staf IT, Aji.

Selanjutnya, terkait modus Kas Gantung yang ditemukan oleh PE Audit Internal, Yudista mengaku mengetahui temuan tersebut tetapi tidak menindaklanjutinya. Dia berdalih bahwa praktik selisih kas yang digunakan untuk menutupi kredit macet 22 nasabah PD. BPR Bestari tidak pernah dilaporkan kepadanya.

"Saya tidak pernah memerintahkan pegawai untuk menutupi kredit macet dengan selisih kas atau kas gantung," tegas Yudista, meskipun bukti yang ada menunjukkan sebaliknya.

Proses persidangan ini masih berlanjut, dan akan menentukan langkah hukum selanjutnya bagi Elfin Yudista dan Arif Firmansyah dalam kasus ini.

 

Standard Post with Image
BPR

Nasabah BMJ Menang Mobil dan Motor dalam Program Ciremaiku

BPRNews.id - Seorang nasabah PT Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Majalengka Jabar (BMJ) baru-baru ini meraih grand prize berupa satu unit mobil Daihatsu Sigra dalam program pengundian tabungan Ciremaiku (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan). Program ini diselenggarakan oleh Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) Komisariat Cirebon.

Penyerahan hadiah utama dilaksanakan oleh Direktur Utama BMJ, H Oci Sanusi SIP MM, kepada nasabah yang beruntung, Tina Kaniah, yang berasal dari Blok Kenanga RT 06/003, Desa Panyingkiran, Kecamatan Panyingkiran, Kabupaten Majalengka.

H Oci Sanusi SIP MM menyatakan kebanggaannya atas pencapaian nasabah BMJ. "Kami sangat bersyukur atas keberhasilan nasabah kami dalam meraih hadiah utama berupa mobil. Ini merupakan bentuk apresiasi kami kepada nasabah yang setia," ungkap H Oci Sanusi, saat memberikan hadiah di Kantor Pusat BMJ, Jalan Pangeran Muhammad No. 42, Cigasong, Kabupaten Majalengka.

Selain itu, nasabah BMJ lainnya, Aswati dari Blok Pahing RT 001/001, Desa Randegan Kulon, Kecamatan Jatitujuh, juga meraih hadiah berupa motor Honda Beat Delux. "Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh nasabah yang telah mempercayakan dananya kepada BMJ. Harapan kami, kepercayaan ini akan terus meningkat di masa depan," tambah H Oci Sanusi didampingi Direktur Operasional BMJ, H Nano Piatno.

 

Copyrights © 2024 All Rights Reserved by BPR News