Standard Post with Image
bank umum

Mengapa Dana Pensiun Syariah Lebih Baik? OJK Beberkan Alasannya

BPRNews.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menguraikan berbagai manfaat dana pensiun berbasis syariah. Apa yang membedakan dana pensiun syariah dengan konvensional?

Dana pensiun syariah adalah program atau layanan yang dirancang untuk memberikan manfaat finansial kepada peserta saat mereka memasuki masa pensiun, dengan tetap mematuhi prinsip-prinsip syariah Islam dan hukum yang berlaku.

Secara umum, OJK menjelaskan bahwa jenis dana pensiun syariah tidak jauh berbeda dengan dana pensiun konvensional, yang terdiri dari: dana pensiun pemberi kerja, dana pensiun berdasarkan keuntungan, dan dana pensiun lembaga keuangan (DPLK).

"Dana pensiun pemberi kerja dibentuk oleh suatu badan atau perorangan yang mempekerjakan karyawan. Seorang pimpinan diwajibkan untuk memberikan program pensiun dengan iuran yang pasti bagi kepentingan seluruh karyawannya," tulis OJK di Instagram resminya pada Minggu (21/7/2024).

Sementara itu, dana pensiun berdasarkan keuntungan adalah jenis dana pensiun yang iurannya hanya berasal dari pemberi kerja. Total iuran dalam program pensiun dihitung berdasarkan keuntungan yang diperoleh perusahaan atau pemberi kerja.

Terakhir, DPLK dibentuk oleh lembaga resmi seperti asuransi atau bank yang bertujuan untuk menjalankan program pensiun dengan iuran pasti untuk perorangan, baik karyawan di sebuah perusahaan maupun pekerja mandiri.

Manfaat Dana Pensiun Syariah:

  • Mendorong pertumbuhan dan perkembangan lembaga keuangan syariah.
  • Memberikan imbal hasil yang lebih baik.
  • Sumber keuntungan didapatkan dari industri halal.
  • Memberikan perlindungan terhadap risiko keuangan di masa pensiun.
  • Manfaat yang diberikan relatif stabil sebagai investasi jangka panjang.

Sistem pensiun di Indonesia terdiri dari program pensiun wajib dan program pensiun sukarela.

Program pensiun wajib merupakan program yang ditetapkan oleh Pemerintah dan wajib diikuti oleh kelompok masyarakat tertentu, seperti pekerja di sektor privat oleh BPJS Ketenagakerjaan, aparatur sipil negara oleh PT Taspen, dan anggota TNI dan Polri oleh PT Asabri.

Program pensiun sukarela adalah program yang dijalankan oleh dana pensiun pemberi kerja (DPPK) dan DPLK. Program ini dikelola oleh badan hukum dan terbagi menjadi program pensiun manfaat pasti (PPMP) dan program pensiun iuran pasti (PPIP).

Dari sisi kinerja industri dana pensiun, OJK mencatat total aset tumbuh 8,36% secara tahunan (year-on-year/yoy) dengan nilai sebanyak Rp1.439,71 triliun. Untuk program pensiun sukarela, asetnya mencapai Rp372,52 triliun dengan kenaikan 4,90% yoy. Sementara itu, jumlah iurannya mencapai Rp14,49 triliun yang naik 0,38% yoy. Jumlah peserta program ini mencapai 5,29 juta orang per Mei 2024.

Sedangkan, program pensiun wajib asetnya mencapai Rp1.067 triliun, naik 9,62% yoy. Nilai iurannya mencapai Rp44,07 triliun dengan kenaikan 6,05% yoy, serta jumlah peserta 23,01 juta hingga Mei 2024.

 

Standard Post with Image
bank umum

IHSG Menguat di Awal Pekan, BRPT, MDKA, GOTO Menjadi Top Performers LQ45

BPRNews.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan pada awal perdagangan Senin (22/7). Pada pukul 09.00 WIB, IHSG naik 25,67 poin atau 0,34% menjadi 7.322,22.

Sebanyak 119 saham tercatat naik, 54 saham turun, dan 271 saham stagnan. Kenaikan IHSG ditopang oleh penguatan di seluruh indeks sektoral.

Sektor barang baku memimpin kenaikan dengan peningkatan 0,60%, disusul sektor teknologi yang naik 0,47% dan sektor energi yang naik 0,43%.

Total volume perdagangan saham di bursa pagi ini mencapai 408,05 juta saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp 287,08 miliar.

Top gainers LQ45 pagi ini adalah:

  1. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 2,84%
  2. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) naik 2,37%
  3. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) naik 2,00%

Top losers LQ45 pagi ini adalah:

  1. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) turun 1,36%
  2. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) turun 1,17%
  3. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) turun 0,78%

 

Standard Post with Image
bank umum

Pertumbuhan Aset Perbankan di DIY Capai Rp106,55 Triliun, Tumbuh 5,78 Persen

BPRNews.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melaporkan bahwa total aset perbankan di DIY mencapai Rp106,55 triliun per April 2024, mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Pada April 2024, aset perbankan tumbuh sebesar 5,78 persen 'year on year' (yoy). Ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 5,08 persen," ujar Eko Yunianto, Kepala OJK DIY, dalam pernyataan resminya di Yogyakarta, Jumat.

Selain aset, Eko juga menyebutkan bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) di DIY mengalami pertumbuhan 5,53 persen (yoy) dengan total mencapai Rp89 triliun, meningkat dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat 4,58 persen.

Dalam hal penyaluran kredit, pertumbuhannya mencapai 10,50 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp60,15 triliun.

"Risiko kredit tetap terjaga meskipun ada penurunan kualitas rasio 'nonperforming loan' (NPL) dari 3,97 persen pada Maret 2024 menjadi 4,45 persen pada April 2024," jelas Eko.

Kredit atau pembiayaan yang disalurkan kepada UMKM per April 2024 mencapai Rp28,66 triliun, tumbuh sebesar 6,26 persen (yoy) dengan pangsa pasar sebesar 47,64 persen. Namun, rasio kredit bermasalah (NPL) UMKM mengalami peningkatan dari 5,67 persen pada Maret 2024 menjadi 6,20 persen pada April 2024.

"Industri Jasa Keuangan di DIY hingga April 2024 berada dalam kondisi stabil dengan kinerja pertumbuhan yang positif, likuiditas yang memadai, dan profil risiko yang terjaga," tambahnya.

OJK DIY terus mendorong perluasan akses keuangan regional melalui berbagai program Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) seperti program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR), Simpanan Mahasiswa dan Pemuda (SIMUDA), Simpanan Pelajar (SimPel), Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir (K/PMR), Laku Pandai, dan Ekosistem Keuangan Inklusif di wilayah perdesaan.

Selama periode Januari hingga Juni 2024, OJK DIY telah menyelenggarakan 45 kegiatan edukasi keuangan baik secara luring maupun daring, dengan total peserta mencapai 4.699 orang dari wilayah DIY dan sekitarnya.

 

Standard Post with Image
bank umum

Peningkatan Penempatan Dana di SRBI dan SBN, Perbankan Optimis Kredit Tetap Tumbuh

BPRNews.id - Penempatan dana perbankan dalam surat-surat berharga seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menunjukkan tren peningkatan, berkat tawaran imbal hasil yang kompetitif dan risiko yang relatif rendah. Namun, perbankan memastikan bahwa peningkatan ini tidak akan menghambat pertumbuhan kredit.

Contohnya, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan total dana sebesar Rp347,5 triliun yang ditempatkan pada instrumen surat berharga, dengan porsi terbesar pada obligasi pemerintah, SRBI, dan surat berharga lainnya. Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, menyatakan bahwa strategi ini adalah bagian dari pengelolaan likuiditas perusahaan.

"BCA tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai lembaga intermediasi ekonomi dengan penyaluran kredit yang tetap tumbuh tinggi," ujar Hera kepada Kontan, Jumat (19/7). Per Maret 2024, kredit BCA meningkat 17,1% YoY menjadi Rp835,7 triliun, melampaui rata-rata industri.

Presiden Direktur Bank CIMB Niaga, Lani Darmawan, juga menyampaikan bahwa meskipun ada penempatan dana di SBN dan SRBI, fokus utama tetap pada penyaluran kredit. "Penempatan di SRBI adalah bagian dari diversifikasi, namun tidak signifikan," kata Lani.

Laporan keuangan Bank CIMB Niaga menunjukkan penempatan dana di Bank Indonesia sebesar Rp4,55 triliun per Mei 2024, naik 13,7% YoY dari Rp4 triliun pada Mei 2023. Kredit yang disalurkan tumbuh 3,77% menjadi Rp203,18 triliun.

Sementara itu, PT Bank Oke Indonesia Tbk (OKE Bank) juga mencatat peningkatan penempatan dana di SBN dan SRBI pada semester I-2024 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan Bank Oke, menjelaskan bahwa peningkatan ini bertujuan untuk memenuhi kewajiban Giro Wajib Minimum (GWM) Sekunder dan likuiditas.

"Penempatan dana di SBN mencapai Rp1,3 triliun dan di SRBI sebesar Rp200 miliar," ungkap Efdinal. Ia juga menekankan bahwa Bank Oke tetap mengutamakan fungsi intermediasi dengan mitigasi risiko pada semua jenis investasi yang dilakukan.

Bank Jatim juga mencatat peningkatan penempatan dana di SRBI pada Kuartal II-2024. Edi Masrianto, Direktur Keuangan Treasury dan Global Services Bank Jatim, menyebut lebih dari 60% portofolio treasury bank ditempatkan pada instrumen bank sentral dan negara. "Bank Jatim juga ditunjuk sebagai primary dealer operasi moneter oleh Bank Indonesia," jelasnya.

Meski begitu, Edi menegaskan bahwa Bank Jatim tetap mengutamakan penyaluran pinjaman sebagai tujuan utama lembaga intermediary, sambil memaksimalkan pendapatan dari dana yang belum tersalurkan melalui instrumen SRBI.

 

Standard Post with Image
bank umum

KSEI Tetapkan 23 Bank sebagai Administrator RDN dan Bank Pembayaran

BPRNews.id - PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menetapkan dan menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan 23 bank yang akan berperan sebagai Bank Administrator Rekening Dana Nasabah (RDN) dan Bank Pembayaran untuk periode 2024-2029.

Direktur Utama KSEI, Samsul Hidayat, menjelaskan bahwa dari total tersebut, 15 bank sudah berperan sebelumnya, sementara 8 bank lainnya adalah penambahan baru. Samsul menyampaikan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan akses investasi di pasar modal bagi para investor.

"Dalam periode 2024-2029, seluruh Bank Administrator RDN juga akan berfungsi sebagai Bank Pembayaran KSEI. Ini memungkinkan bank-bank tersebut untuk menjalankan fungsi penyelesaian transaksi efek di pasar modal dan menyediakan fasilitas intraday bagi Perusahaan Efek," ujar Samsul saat acara di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat.

Proses pemilihan Bank Administrator RDN dan Bank Pembayaran dilakukan secara transparan dan melibatkan Bank Umum serta Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang merupakan peserta BI-RTGS dan BI-FAST.

Berikut adalah daftar 23 bank yang telah ditetapkan:

  1. PT Allo Bank Indonesia Tbk
  2. PT Bank BCA Syariah
  3. PT Bank Capital Indonesia Tbk
  4. PT Bank Central Asia Tbk
  5. PT Bank CIMB Niaga Tbk
  6. PT Bank DBS Indonesia
  7. PT Bank Digital BCA
  8. PT Bank Ina Perdana Tbk
  9. PT Bank Jago Tbk
  10. PT Bank KB Bukopin Tbk
  11. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
  12. PT Bank Maybank Indonesia Tbk
  13. PT Bank Mega Tbk
  14. PT Bank MNC Internasional Tbk
  15. PT Bank Multiarta Sentosa Tbk
  16. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
  17. PT Bank OCBC NISP Tbk
  18. PT Bank Panin Tbk
  19. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk
  20. PT Bank Permata Tbk
  21. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
  22. PT Bank Sinarmas Tbk
  23. PT Bank Syariah Indonesia Tbk

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi, menyatakan bahwa kerja sama ini memperlihatkan sinergi yang kuat antara industri pasar modal dan perbankan dalam mendukung pengembangan serta peningkatan inklusi keuangan di Indonesia.

“Pertumbuhan positif kinerja pasar modal, termasuk peningkatan jumlah investor, tidak mungkin tercapai tanpa dukungan dan kontribusi dari seluruh stakeholder, termasuk Bank Administrator RDN dan Bank Pembayaran yang memiliki peran strategis dalam ekosistem pasar modal Indonesia,” ungkap Inarno.

 

Copyrights © 2024 All Rights Reserved by BPR News